Konseling Person
Centered
Tahap-tahap Konseling
a.
Konseli datang kepada konselor atas kemauannya sendiri atau atas saran orang
lain. Apabila konseli datang atas saran orang lain, maka konselor harus mampu
menciptakan situasi yang nyaman dan permisif agar konseli dapat menentukan
untuk tetap mengikuti konseling daripada membatalkannya.
b.
Situasi konseling sejak awal menjadi tanggung jawab konseli, sehingga konselor
berperan untuk mengarahkan konseli.
c.
Konselor mendorong konseli untuk mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, bersikap
ramah, bersahabat dan menerima konseli apa adanya.
d. Konselor menerima dan memahami konseli.
e.
Konseli berupaya agar konseli mampu menerima dirinya sendiri (self-acceptnce)
f. Konseli menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan
diambil (planning).
g. Konseli merealisasikan pilihannya.
Secara kongkrit, tahapan konseling dapat diuraikan sebagai
berikut:
a. Tahap Perkenalan
Pada
tahap ini pemimpin yang berpusat pribadi diharapkan dapat menghindari
penggunaan praktek yang direncanakan dan teknik untuk mendapatkan “kemajuan
dalam kelompok”. Mereka berpedoman pada kapasitasnya dalam kelompok untuk
memutuskan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Sikap kepemimpinan dan karakter
individu jauh lebih penting dibandingkan teknik yang digunakan. Dalam tahap perkenalan,
konselor memulai percakapan misalnya dengan :
* Memperkenalkan diri
* Mempersiapkan aturan main ( peran, kerahasiaan, waktu dan
tujuan pertemuan
* Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar,
dsb.
* Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
b. Tahap Pelaksanaan
Pada
tahap ini, teknik-teknik atau keterampilan kunci meliputi keterampilan
mendengar aktif, klarifikasi, pengenalan diri, pemberian penghargaan dan
pengertian. Anggota dituntun untuk berbicara secara terbuka tentang apapun yang
mereka rasakan saat itu. Gambaran dalam tahap pelaksanaan :
Menceritakan Masalah
* Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau
tidak.
* Bagaimana konseli merumuskan problemnya.
* Apakah ini problem satu – satunya.
* Perhatikan perasaan, bukan hanya pikiran.
* Tanyakan semua berdasarkan kacamata konnseli.
Mencari Pemecahan dan alternatif
* Tanyakan dulu pada k;onseli “ apa yang akan
dilakukannya?”.
* Menanyakan masa lampau dan apa yang dulu membantunya
hingga berhasil.
* Mengajak berandai – andai (dengan beberapa pilihan) dan
bermain peran.
c. Tahap Akhir (Terminasi)
Pada
tahap ini pemimpin tidak diperlukan lagi. Apabila kelompok telah berjalan
secara efektif, maka untuk sekarang kelompok telah bergerak dan dapat
menggambarkan potensi-potensi dirinya untuk digunakan dalam kelompok. Pemimpin
dapat membantu anggotanya untuk menyimpulkan apa yang telah mereka dapatkan dan
menerapkan hal tersebut dalam kehidupan nyata setelah sesi konseling kelompok
diakhiri. Dalam tahap akhir ini konselor:
Mengakhiri percakapan
*
Rangkuman percakapan, rumusan langkah pertama, dukungan terhadap rencana
perilaku, membuat rujukan dan membuat janji bila bertemu lagi.
3. Teknik-teknik Konseling
Teknik-teknik konseling yang dapat diterapkan, antara lain:
v
Rapport, yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang
baik dengan konseli agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.
v
Teknik klarifikasi, yaitu suatu cara konselor untuk menjernihkan dan meminta
konseli untuk menjelaskan hal-hal yang dikemukakan oleh kepada konselor.
v
Teknik refleksi, (isi dan perasaan) yaitu usaha konselor untuk memantulkan
kembali hal-hal yang telah dikemukakan konseli (isi pembicaraan) dan
memantulkan kembali perasaan-perasaan yang ditampakkan oleh konseli (perasaan
dalam usaha untuk menciptakan hubungan baik antara konselor dengan klien dan
menggali atau memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengeksplorasi diri
dan masalahnya.
v
Teknik “free expression” yaitu memberikan kebebasan kepada klien untuk berekspresi,
terutama emosinya, cara kerja teknik ini seperti cara kerja kataris.
v
Teknik “silence”, yaitu kesempatan yang berharga diberikan oleh terapis kepada
klien untuk mempertimbangkan dan meninjau kembali pengalaman-pengalaman dan
ekspresinya yang lampau. Kesempatan ini dapat diberikan diantara waktu
konseling dan dapat berlangsung cukup lama. Jika terlalu lama maka konselor
perlu mengambil inisiatif untuk memulai lagi komunikasi dengan konseli.
v
Teknik “transference” yaitu ketergantungan konseli kepada konselor. Hal ini
dapat terjadi pada awal terapi, tapi bukan merupakan dasar untuk kemajuan
terapi. Kemungkinan transference terjadi karena sikap konselor yang memberikan
kebebasan tanpa menilai atau mengevaluasi konseli.
KELEMAHAN DAN KELEBIHAN
1. Kelemahan
• Memungkinkan sebagian (terapis)
menjadi terlalu terpusat pada konseli sehingga melupakan keasliannya.
• Kesalahan sebagian besar terapis dalam
menterjemahkan sikap-sikap yang harus dikembangkan dalam hubungan terapeutik.
2. Kelebihan
• Sifat keamanan. Individu dapat
mengexplorasi pengalaman-pengalaman psikologis yang bermaknya baginya dengan
perasaan aman.
• Dapat
diterapkan pada setting individual maupun kelompok.
• Memberikan
peluang yang lebih luas terhadap klien untuk mendengar dan didengar.
• Rumusannya
dapat diuji lagi
Sikap,peran dan tugas konselor
Pemahaman
konselor dipusatkan pada sikap, keterampilan, tugas serta fungsinya. Menurut
Rogers, sikap yang harus dimiliki konselor adalah kejujuran/ketulusan
(kongruensi), sikap positif yang tidak bersyarat (unconditional positive
regard) dan pemahaman empati yang akurat. Adapun keterampilan pokok yang harus
dimiliki oleh konselor adalah keterampilan mengamati tingkah laku konseli dan
keterampilan mengkomunikasikan pemahaman terhadap konseli. Dan secara umum
tugas dari konselor adalah menciptakan suasana konseling yang memfasilitasi
pertumbuhan kepribadian konseli, sedangkan fungsi dari konselor adalah sebagai
fasilitator, motivator, reflektor, dan model bagi konselinya.
Peran konselor antara lain:
a. Terapist
tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan terapi
tetapi itu dilakukan oleh klien sendiri.
b. Terapist
merefleksikan perasaan-perasaan klien sedangkan arah pembicaraan ditentukan
oleh klien.
c. Terapist
menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang
bagaimanapun.
d. Terapist
memberi kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan perasaan sedalam-dalamnya
dan seluas-luasnya.
3. Sikap,peran
dan tugas klien
Agar
proses konseling dapat mencapai perubahan pribadi konseli yang diinginkan, maka
diperlukan beberapa kondisi yang seharusnya ada pada konseli, yaitu adanya
kesediaan konseli secara sukarela untuk menerima bantuan dan dapat bertanggung
jawab terhadap dirinya sendiri, dapat mengungkapkan perasaan tertekannya dengan
baik dan konseli dan konselor harus bisa menciptakan suasana yang kondusif
dalam proses konseling.
SUMBER RUJUKAN
Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and
Psycotherapy. Thomson Higher Education: USA
Gillon, W. 2007. Person Centred Counseling Psychology and
Introduction. Sage Publications: London
RSS Feed
Twitter
Tidak ada komentar:
Posting Komentar