Instagram

Jumat, 28 November 2014

Konseling berpusat pada person



Konseling Person Centered
Tahap-tahap Konseling

a. Konseli datang kepada konselor atas kemauannya sendiri atau atas saran orang lain. Apabila konseli datang atas saran orang lain, maka konselor harus mampu menciptakan situasi yang nyaman dan permisif agar konseli dapat menentukan untuk tetap mengikuti konseling daripada membatalkannya.
b. Situasi konseling sejak awal menjadi tanggung jawab konseli, sehingga konselor berperan untuk mengarahkan konseli.
c. Konselor mendorong konseli untuk mampu mengungkapkan pikiran, perasaan, bersikap ramah, bersahabat dan menerima konseli apa adanya.
d. Konselor menerima dan memahami konseli.
e. Konseli berupaya agar konseli mampu menerima dirinya sendiri (self-acceptnce)
f. Konseli menentukan pilihan sikap dan tindakan yang akan diambil (planning).
g. Konseli merealisasikan pilihannya.

Secara kongkrit, tahapan konseling dapat diuraikan sebagai berikut:
a. Tahap Perkenalan
Pada tahap ini pemimpin yang berpusat pribadi diharapkan dapat menghindari penggunaan praktek yang direncanakan dan teknik untuk mendapatkan “kemajuan dalam kelompok”. Mereka berpedoman pada kapasitasnya dalam kelompok untuk memutuskan berapa lama waktu yang dibutuhkan. Sikap kepemimpinan dan karakter individu jauh lebih penting dibandingkan teknik yang digunakan. Dalam tahap perkenalan, konselor memulai percakapan misalnya dengan :
* Memperkenalkan diri
* Mempersiapkan aturan main ( peran, kerahasiaan, waktu dan tujuan pertemuan
* Basa – basi awal, bisa dengan menanyakan identitas, kabar, dsb.
* Mengawali percakapan : “ Ada yang bisa saya bantu?”
b. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap ini, teknik-teknik atau keterampilan kunci meliputi keterampilan mendengar aktif, klarifikasi, pengenalan diri, pemberian penghargaan dan pengertian. Anggota dituntun untuk berbicara secara terbuka tentang apapun yang mereka rasakan saat itu. Gambaran dalam tahap pelaksanaan :
Menceritakan Masalah
* Dari awal kita harus mencari apakah ada problem atau tidak.
* Bagaimana konseli merumuskan problemnya.
* Apakah ini problem satu – satunya.
* Perhatikan perasaan, bukan hanya pikiran.
* Tanyakan semua berdasarkan kacamata konnseli.
Mencari Pemecahan dan alternatif
* Tanyakan dulu pada k;onseli “ apa yang akan dilakukannya?”.
* Menanyakan masa lampau dan apa yang dulu membantunya hingga berhasil.
* Mengajak berandai – andai (dengan beberapa pilihan) dan bermain peran.
c. Tahap Akhir (Terminasi)
Pada tahap ini pemimpin tidak diperlukan lagi. Apabila kelompok telah berjalan secara efektif, maka untuk sekarang kelompok telah bergerak dan dapat menggambarkan potensi-potensi dirinya untuk digunakan dalam kelompok. Pemimpin dapat membantu anggotanya untuk menyimpulkan apa yang telah mereka dapatkan dan menerapkan hal tersebut dalam kehidupan nyata setelah sesi konseling kelompok diakhiri. Dalam tahap akhir ini konselor:
Mengakhiri percakapan
* Rangkuman percakapan, rumusan langkah pertama, dukungan terhadap rencana perilaku, membuat rujukan dan membuat janji bila bertemu lagi.
3. Teknik-teknik Konseling
Teknik-teknik konseling yang dapat diterapkan, antara lain:
v Rapport, yaitu teknik yang bertujuan untuk membuat pendekatan dan hubungan yang baik dengan konseli agar selama proses terapi dapat berlangsung dengan lancar.
v Teknik klarifikasi, yaitu suatu cara konselor untuk menjernihkan dan meminta konseli untuk menjelaskan hal-hal yang dikemukakan oleh kepada konselor.
v Teknik refleksi, (isi dan perasaan) yaitu usaha konselor untuk memantulkan kembali hal-hal yang telah dikemukakan konseli (isi pembicaraan) dan memantulkan kembali perasaan-perasaan yang ditampakkan oleh konseli (perasaan dalam usaha untuk menciptakan hubungan baik antara konselor dengan klien dan menggali atau memberikan kesempatan kepada konseli untuk mengeksplorasi diri dan masalahnya.
v Teknik “free expression” yaitu memberikan kebebasan kepada klien untuk berekspresi, terutama emosinya, cara kerja teknik ini seperti cara kerja kataris.
v Teknik “silence”, yaitu kesempatan yang berharga diberikan oleh terapis kepada klien untuk mempertimbangkan dan meninjau kembali pengalaman-pengalaman dan ekspresinya yang lampau. Kesempatan ini dapat diberikan diantara waktu konseling dan dapat berlangsung cukup lama. Jika terlalu lama maka konselor perlu mengambil inisiatif untuk memulai lagi komunikasi dengan konseli.
v Teknik “transference” yaitu ketergantungan konseli kepada konselor. Hal ini dapat terjadi pada awal terapi, tapi bukan merupakan dasar untuk kemajuan terapi. Kemungkinan transference terjadi karena sikap konselor yang memberikan kebebasan tanpa menilai atau mengevaluasi konseli.
KELEMAHAN DAN KELEBIHAN
1.      Kelemahan
         Memungkinkan sebagian (terapis) menjadi terlalu terpusat pada konseli sehingga melupakan keasliannya.
         Kesalahan sebagian besar terapis dalam menterjemahkan sikap-sikap yang harus dikembangkan dalam hubungan terapeutik.
2.      Kelebihan
         Sifat keamanan. Individu dapat mengexplorasi pengalaman-pengalaman psikologis yang bermaknya baginya dengan perasaan aman.
         Dapat diterapkan pada setting individual maupun kelompok.
         Memberikan peluang yang lebih luas terhadap klien untuk mendengar dan didengar.
         Rumusannya dapat diuji lagi
Sikap,peran dan tugas konselor
Pemahaman konselor dipusatkan pada sikap, keterampilan, tugas serta fungsinya. Menurut Rogers, sikap yang harus dimiliki konselor adalah kejujuran/ketulusan (kongruensi), sikap positif yang tidak bersyarat (unconditional positive regard) dan pemahaman empati yang akurat. Adapun keterampilan pokok yang harus dimiliki oleh konselor adalah keterampilan mengamati tingkah laku konseli dan keterampilan mengkomunikasikan pemahaman terhadap konseli. Dan secara umum tugas dari konselor adalah menciptakan suasana konseling yang memfasilitasi pertumbuhan kepribadian konseli, sedangkan fungsi dari konselor adalah sebagai fasilitator, motivator, reflektor, dan model bagi konselinya.
Peran konselor antara lain:
a.       Terapist  tidak memimpin, mengatur atau menentukan proses perkembangan terapi tetapi itu dilakukan oleh klien sendiri.
b.      Terapist merefleksikan perasaan-perasaan klien sedangkan arah pembicaraan ditentukan oleh klien.
c.       Terapist menerima individu dengan sepenuhnya dalam keadaan atau kenyataan yang bagaimanapun.
d.      Terapist memberi kebebasan kepada klien untuk mengekspresikan perasaan sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya.
3.      Sikap,peran dan tugas klien
Agar proses konseling dapat mencapai perubahan pribadi konseli yang diinginkan, maka diperlukan beberapa kondisi yang seharusnya ada pada konseli, yaitu adanya kesediaan konseli secara sukarela untuk menerima bantuan dan dapat bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, dapat mengungkapkan perasaan tertekannya dengan baik dan konseli dan konselor harus bisa menciptakan suasana yang kondusif dalam proses konseling.

SUMBER RUJUKAN
Corey, G. 2009. Theory and Practice of Counseling and Psycotherapy. Thomson Higher Education: USA
Gillon, W. 2007. Person Centred Counseling Psychology and Introduction. Sage Publications: London